Kebiasaan Baik dan Buruk



“Barangsiapa dalam Islam melakukan kebiasan baik, maka tercatat baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka yang mengikutinya. Barangsiapa dalam Islam melakukan kebiasaan buruk, maka tercatat baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim, No. 1017, At Tirmidzi No. 2675, An Nasa’i No. 2554, Ibnu Majah No. 203)

Setetes Air



Nikmat dunia itu sedikit ibarat setetes air, sedang nikmat akhirat ibarat air sedalam dan seluas samudera. Dunia yang hanya setetes air itu dibagi untuk semua manusia. Waktu, tenaga, pikiran terbaik digunakan untuk meraih yang hanya setetes itu. Namun akhirat, yang nikmatnya seperti air sedalam dan seluas samudera sering kita lupakan. Sibuk dan lelah karena meraih setetes air menjadikan malas dan lalai meraih air sedalam dan seluas samudera. Saar ini akhirat itu ghaib, yakin kepada ghaib itu adalah jalan keluarnya. Mari kita raih air sedalam dan seluas samudera itu dengan sungguh-sungguh.

Sebuah Pesan Bijak



Sesungguhnya Allah Maha Pencipta telah menyediakan semua sumber daya untuk kehidupan di muka bumi. Manusialah (sebagai khalifah di muka bumi) yang diamanahi untuk mentransformasi sumber daya tersebut menjadi bernilai dan bermanfaat bagi seluruh alam (rahmatan lil’alamin). “Sudahkah kita menunaikan amanah itu dalam kehidupan sehari hari?”.

Pesan Bijak



Kala memberi, berilah dengan Ikhlas. Kala menerima, terimalah dengan Syukur. Kala mencari, carilah dengan Tawakal. Kala mengambil, ambilah dengan Adil. Kala menyimpan, simpanlah dengan Amanah. InsyaaLlah hidup akan tenang, dan hati akan tentram.

Akar Kesalahan



“Akar dari kesalahan itu ada tiga. Pertama, kesombongan. Itulah yang menyebabkan iblis mengalami apa yang ia alami. Kedua, keserakahan, dan itulah yang mengeluarkan Adam dari Surga. Ketiga, kedengkian, dan itulah yang menjadikan salah satu anak Adam membunuh saudaranya. Maka barangsiapa berlindung dari keburukan tiga akar kesalahan itu, sesungguhnya ia telah melindungi dirinya dengan sebenar-benarnya. Karena kekafiran itu bersumber dari kesombongan. Karena kemaksiatan itu sumbernya keserakahan. Sedang kezhaliman itu sumbernya kedengkian.” (Ibnu Qoyyim)